Jakarta, 5 Mei 2026 – Masyarakat mulai merasakan perubahan pada ukuran tempe yang kini semakin tipis di pasaran. Fenomena ini menjadi perbincangan luas karena tempe merupakan salah satu bahan pangan utama bagi banyak keluarga di Indonesia.
Sejumlah pedagang mengakui bahwa penyesuaian ukuran dilakukan sebagai respons terhadap kenaikan harga bahan baku, terutama kedelai impor. Dengan menjaga harga jual tetap terjangkau, produsen memilih mengurangi ketebalan tempe dibandingkan menaikkan harga secara langsung.
Di sisi lain, konsumen merasakan dampak dari perubahan ini karena porsi yang didapat menjadi lebih sedikit. Hal ini dinilai dapat mempengaruhi pola konsumsi, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan tempe sebagai sumber protein harian yang ekonomis.
Pengamat ekonomi menilai fenomena ini sebagai bentuk “shrinkflation”, yaitu kondisi di mana ukuran produk dikurangi tanpa perubahan harga yang signifikan. Strategi ini kerap digunakan pelaku usaha untuk menyesuaikan dengan tekanan biaya produksi tanpa kehilangan pelanggan.
Pemerintah diharapkan dapat mencari solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga kedelai, termasuk melalui diversifikasi sumber impor atau peningkatan produksi lokal. Upaya ini penting agar produk pangan seperti tempe tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas dan kuantitas.
Dengan kondisi yang terus berkembang, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam berbelanja, sementara pelaku usaha diharapkan tetap menjaga keseimbangan antara harga, kualitas, dan kebutuhan konsumen.