Beijing, 29 Juli 2026 – Tren film dan drama pendek berbasis kecerdasan buatan tengah menarik perhatian di China setelah teknologi generatif semakin banyak digunakan dalam produksi konten hiburan. Fenomena yang kerap dikaitkan dengan popularitas dracin atau drama China ini bahkan membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan dengan memberikan izin penggunaan wajah mereka sebagai karakter digital. Alih-alih selalu menghadirkan aktor secara langsung dalam seluruh proses produksi, perusahaan dapat memanfaatkan rekaman wajah dan ekspresi seseorang untuk membentuk karakter dengan bantuan AI. Praktik tersebut kemudian populer disebut sebagai aktivitas “menjual” wajah, meskipun pada dasarnya berkaitan dengan pemberian hak penggunaan citra berdasarkan kesepakatan tertentu. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana AI mulai mengubah hubungan antara teknologi, identitas manusia, dan industri hiburan.
Prosesnya dapat dimulai dengan pengambilan foto atau rekaman seseorang dari berbagai sudut dan ekspresi. Materi tersebut kemudian digunakan untuk membangun representasi digital yang dapat diproses dalam produksi berbasis AI. Setelah model digital tersedia, karakter dapat ditempatkan dalam berbagai adegan tanpa membutuhkan pemilik wajah hadir untuk setiap pengambilan gambar. Efisiensi tersebut menjadi daya tarik bagi industri drama pendek yang membutuhkan produksi konten dalam jumlah besar dan waktu relatif cepat. Namun, penggunaan wajah digital juga menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa jauh perusahaan dapat memanfaatkan identitas seseorang setelah data tersebut diserahkan.
Bagi sebagian warga, peluang mendapatkan bayaran dari penggunaan wajah menjadi sumber pendapatan baru di tengah berkembangnya ekonomi berbasis AI. Seseorang tidak harus menjadi selebritas untuk memiliki citra yang dinilai sesuai dengan kebutuhan karakter tertentu. Wajah dengan karakteristik berbeda dapat dibutuhkan untuk tokoh utama, pendukung, latar belakang, hingga materi promosi. Situasi ini menciptakan semacam pasar baru tempat penampilan fisik dapat berubah menjadi aset digital yang memiliki nilai ekonomi. Popularitas drama pendek di China turut memperbesar kebutuhan terhadap variasi karakter yang dapat diproduksi dengan cepat.
Dari sisi perusahaan produksi, teknologi AI berpotensi menekan sebagian biaya dan mempercepat tahapan pembuatan konten. Adegan tertentu dapat dibuat atau dimodifikasi tanpa selalu mengumpulkan seluruh pemain di satu lokasi. Penampilan karakter juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan cerita selama penggunaan tersebut berada dalam batas kesepakatan dengan pemilik citra. Model produksi seperti ini memungkinkan studio bereksperimen dengan lebih banyak konsep dalam waktu singkat. Meski demikian, efisiensi teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap kreativitas manusia dalam membangun cerita, karakter, penyutradaraan, dan kualitas keseluruhan tayangan.
Persoalan besar muncul ketika wajah digital dapat digunakan kembali untuk konteks yang sebelumnya tidak diperkirakan pemiliknya. Kontrak yang memberikan izin terlalu luas berpotensi membuat citra seseorang muncul dalam berbagai produksi selama bertahun-tahun. Pemilik wajah perlu memahami apakah izin berlaku untuk satu karya, beberapa proyek, periode tertentu, atau penggunaan tanpa batas. Ketentuan mengenai perubahan karakter, distribusi lintas platform, materi iklan, hingga penggunaan untuk melatih sistem AI juga menjadi bagian penting. Nilai pembayaran awal yang terlihat menarik dapat memiliki konsekuensi berbeda apabila hak penggunaan yang diberikan ternyata sangat luas.
Teknologi deepfake dan AI generatif semakin memperbesar pentingnya perlindungan identitas digital. Ketika sistem mampu menghasilkan wajah dengan ekspresi, gerakan, dan situasi yang sangat meyakinkan, penonton dapat kesulitan mengetahui apakah seseorang benar-benar pernah melakukan adegan yang ditampilkan. Risiko reputasi muncul apabila wajah digunakan dalam konten yang bertentangan dengan keinginan atau citra pemiliknya. Persetujuan yang jelas dan mekanisme untuk menangani penyalahgunaan menjadi semakin penting ketika teknologi berkembang lebih cepat. Identitas wajah pada era AI tidak lagi hanya berupa foto, tetapi dapat menjadi bahan untuk menciptakan representasi seseorang dalam berbagai situasi baru.
Fenomena ini juga membawa tantangan bagi pekerja kreatif tradisional. Aktor figuran dan pemain dengan peran kecil dapat menghadapi persaingan dari karakter digital yang dapat digunakan berulang kali setelah proses perekaman awal. Pada sisi lain, teknologi dapat melahirkan profesi baru dalam pengelolaan karakter digital, produksi virtual, penyuntingan AI, hingga perlindungan hak citra. Industri hiburan kemungkinan tidak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi pembagian pekerjaan dapat berubah ketika teknologi mengambil alih sebagian proses produksi. Kemampuan beradaptasi dengan sistem baru akan menjadi semakin penting bagi pekerja maupun perusahaan.
Demam film AI dan dracin di China pada akhirnya memperlihatkan babak baru ketika wajah manusia dapat memiliki nilai sebagai aset digital. Kesempatan memperoleh penghasilan membuat sebagian warga bersedia memberikan izin penggunaan citra mereka, sementara perusahaan mendapatkan cara baru untuk memproduksi karakter secara cepat dan fleksibel. Namun, kemudahan tersebut datang bersama persoalan mengenai hak citra, durasi penggunaan, kompensasi, privasi, serta kemungkinan penyalahgunaan identitas. Perkembangan AI membuat batas antara aktor nyata dan karakter digital semakin sulit dibedakan. Di tengah pertumbuhan industri tersebut, kejelasan mengenai siapa yang mengendalikan wajah digital dan bagaimana pemiliknya mendapatkan perlindungan akan menjadi persoalan penting dalam masa depan hiburan berbasis AI.