Sukabumi, 2 September 2026 – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengajak generasi muda Indonesia memanfaatkan momentum bonus demografi dengan meningkatkan kualitas diri, pendidikan, keterampilan, dan karakter. Menurutnya, bonus demografi merupakan kesempatan besar yang tidak datang berulang kali dan dapat menjadi salah satu faktor penting bagi Indonesia untuk melakukan lompatan menuju negara maju. Pesan tersebut disampaikan Sigit saat memberikan sambutan dalam Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka Persatuan Ummat Islam (PUI) 2026 di Selabintana Camping Ground, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Besarnya jumlah penduduk usia produktif dinilai dapat menjadi kekuatan apabila dibarengi sumber daya manusia yang kompeten dan mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Sebaliknya, peluang tersebut dapat menjadi tantangan apabila generasi muda tidak memperoleh pendidikan dan keterampilan yang memadai. Karena itu, persiapan tidak dapat dilakukan ketika mereka sudah memasuki dunia kerja, tetapi perlu dimulai sejak usia sekolah. Sigit menekankan kerja keras dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar keuntungan demografi dapat memberikan dampak nyata terhadap pembangunan nasional.
Bonus demografi terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan kelompok usia nonproduktif sehingga sebuah negara memiliki tenaga kerja dalam jumlah besar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan produktivitas, konsumsi, investasi, serta pertumbuhan ekonomi apabila masyarakat usia produktif memiliki pekerjaan dan kemampuan yang sesuai kebutuhan. Sigit mengingatkan momentum semacam ini hanya terjadi dalam periode tertentu sehingga harus dimanfaatkan dengan perencanaan yang matang. Generasi muda yang saat ini berada di sekolah maupun perguruan tinggi akan menjadi kelompok utama yang menggerakkan perekonomian ketika Indonesia memasuki periode penting tersebut. Mereka nantinya akan mengisi berbagai sektor mulai dari pemerintahan, pendidikan, kesehatan, teknologi, industri, pertanian, hingga kewirausahaan. Kualitas generasi tersebut akan menentukan apakah jumlah penduduk produktif benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas nasional. Pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat karena itu memiliki tanggung jawab bersama dalam mempersiapkan mereka. Pendidikan formal perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter serta keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Kapolri menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Generasi muda juga membutuhkan karakter, kedisiplinan, kepedulian, kemampuan bekerja sama, serta semangat persatuan dan kesatuan. Kompetensi tersebut menjadi penting karena kehidupan profesional pada masa depan akan membutuhkan kemampuan berkolaborasi dengan orang yang memiliki latar belakang dan keahlian berbeda. Dunia kerja juga terus mengalami perubahan akibat otomatisasi, kecerdasan buatan, dan perkembangan teknologi digital sehingga kemampuan beradaptasi semakin dibutuhkan. Pengetahuan yang diperoleh seseorang hari ini dapat mengalami perubahan dalam beberapa tahun mendatang sehingga kebiasaan belajar sepanjang hayat perlu ditanamkan sejak dini. Generasi muda harus memiliki keberanian mempelajari keterampilan baru tanpa meninggalkan nilai integritas dan tanggung jawab. Sigit melihat kombinasi kemampuan teknis dan karakter kuat sebagai modal untuk melahirkan calon pemimpin masa depan. Dengan kualitas tersebut, bonus demografi dapat menjadi kekuatan yang mendorong produktivitas sekaligus mempercepat transformasi Indonesia.
Dalam konteks pembentukan karakter, Sigit menilai Gerakan Pramuka memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan generasi muda. Berbagai aktivitas Pramuka membiasakan anggotanya untuk disiplin, mandiri, bergotong royong, bersosialisasi, dan membantu orang lain ketika menghadapi kesulitan. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman praktis yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas. Peserta belajar menjalankan tanggung jawab, menyelesaikan persoalan dalam kelompok, serta mengambil keputusan dalam berbagai kondisi. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka nantinya masuk ke dunia kerja maupun memperoleh tanggung jawab sebagai pemimpin. Pramuka juga memberikan ruang kepada generasi muda untuk berinteraksi secara langsung di tengah semakin besarnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi langsung membantu membangun empati dan kemampuan komunikasi yang tetap dibutuhkan meskipun berbagai aktivitas semakin terdigitalisasi. Sigit berharap pembinaan melalui kegiatan kepanduan terus dikembangkan agar tetap sesuai dengan kebutuhan generasi muda masa kini.
Pemerintah juga terus membuka berbagai jalur pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian dari persiapan menghadapi bonus demografi. Sigit menyinggung keberadaan Sekolah Rakyat, sekolah unggulan, sekolah transformasi, pendidikan jarak jauh, hingga program beasiswa LPDP yang memberikan kesempatan kepada masyarakat meningkatkan kemampuan. Polri turut mengambil bagian melalui SMA Kemala Taruna Bhayangkara yang diarahkan untuk mempersiapkan generasi muda dengan kemampuan akademik dan karakter kepemimpinan. Berbagai program tersebut perlu berjalan bersama peningkatan kualitas pendidikan secara lebih luas sehingga kesempatan belajar tidak hanya tersedia bagi masyarakat di wilayah tertentu. Anak-anak yang berada di daerah terpencil maupun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap membutuhkan akses pendidikan berkualitas. Teknologi dapat membantu memperluas akses melalui pendidikan jarak jauh, tetapi infrastruktur internet dan perangkat pendukung harus tersedia secara merata. Pemerataan pendidikan menjadi penting karena bonus demografi melibatkan penduduk dari seluruh wilayah Indonesia. Semakin banyak generasi muda mendapatkan kesempatan mengembangkan kemampuan, semakin besar pula potensi produktivitas yang dapat dihasilkan.
Di tengah peluang tersebut, Kapolri juga mengingatkan generasi muda menghindari berbagai aktivitas yang dapat merusak masa depan. Narkoba, judi online, tawuran, keterlibatan dalam geng, kejahatan, serta penyebaran paham negatif melalui media sosial menjadi sejumlah persoalan yang secara khusus mendapatkan perhatian. Aktivitas tersebut dapat membuat anak muda kehilangan kesempatan mengembangkan potensi ketika seharusnya mereka sedang berada pada fase penting pembentukan kemampuan. Penyalahgunaan narkoba misalnya dapat memberikan dampak panjang terhadap kesehatan, pendidikan, hubungan sosial, hingga produktivitas seseorang. Tawuran dan kejahatan juga dapat membawa konsekuensi hukum yang memengaruhi masa depan. Sementara itu, perkembangan ruang digital menghadirkan tantangan berbeda karena berbagai pengaruh dapat masuk melalui telepon genggam tanpa batas geografis. Generasi muda membutuhkan kemampuan membedakan informasi yang bermanfaat dengan konten yang dapat membawa mereka kepada tindakan merugikan. Pencegahan perlu melibatkan keluarga, sekolah, aparat, organisasi masyarakat, dan lingkungan sosial agar perlindungan tidak hanya bergantung kepada satu pihak.
Perkembangan teknologi menurut Sigit seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana mempercepat peningkatan kemampuan generasi muda. Telepon pintar, mesin pencari, media sosial, platform pembelajaran, serta berbagai teknologi baru memberikan akses terhadap pengetahuan yang sebelumnya sulit diperoleh. Seseorang dapat mempelajari bahasa, pemrograman, desain, bisnis, ilmu pengetahuan, maupun berbagai keterampilan lain hanya dengan perangkat yang terhubung ke internet. Namun, kemudahan tersebut membutuhkan kedisiplinan agar teknologi tidak hanya digunakan untuk konsumsi hiburan tanpa memberikan nilai tambah. Generasi muda perlu diarahkan menjadi pencipta dan inovator, bukan sekadar pengguna produk digital. Kemampuan memahami keamanan data dan etika dalam ruang digital juga menjadi bagian penting dari literasi masa depan. Teknologi yang digunakan secara produktif dapat membantu memperkecil kesenjangan pengetahuan antara masyarakat di kota besar dan daerah. Dengan akses dan pendampingan yang tepat, anak muda dari berbagai wilayah memiliki kesempatan lebih besar mengembangkan kemampuan berdasarkan minat serta potensinya.
Bonus demografi juga memiliki hubungan erat dengan ketersediaan lapangan pekerjaan karena meningkatnya jumlah penduduk usia produktif harus diimbangi kesempatan ekonomi. Pendidikan yang baik tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila lulusan kesulitan memperoleh pekerjaan atau membangun usaha. Karena itu, pembangunan industri, investasi, kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan sektor produktif lainnya perlu berkembang sejalan dengan peningkatan kualitas tenaga kerja. Generasi muda dapat didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan kegiatan usaha dan lapangan pekerjaan baru. Kemampuan kewirausahaan dapat diperkenalkan sejak sekolah melalui pendidikan mengenai pengelolaan keuangan, pemasaran, teknologi, serta penyelesaian masalah. Ekonomi digital membuka peluang membangun usaha dengan modal dan jangkauan pasar yang berbeda dibandingkan model bisnis konvensional. Namun, keberhasilan tetap membutuhkan kemampuan membaca kebutuhan pasar serta menjaga kualitas produk dan layanan. Kolaborasi pemerintah dan dunia usaha diperlukan agar pendidikan serta pelatihan memiliki hubungan lebih dekat dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri.
Sigit juga menempatkan persatuan sebagai bagian penting dalam memanfaatkan bonus demografi. Indonesia memiliki keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial yang dapat menjadi kekuatan apabila masyarakat mampu bekerja bersama. Generasi muda harus mampu berkompetisi secara sehat tanpa menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan. Kemampuan berkolaborasi menjadi semakin penting karena berbagai persoalan pembangunan membutuhkan keterlibatan banyak kelompok dan disiplin ilmu. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menurutnya tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap sehari-hari. Media sosial juga perlu digunakan secara bertanggung jawab agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi konflik yang merusak hubungan masyarakat. Anak muda dapat mengambil peran dengan membangun ruang komunikasi yang sehat dan tidak ikut menyebarkan informasi provokatif yang belum diketahui kebenarannya. Stabilitas sosial pada akhirnya memiliki hubungan langsung dengan kesempatan pendidikan, investasi, penciptaan pekerjaan, serta pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan untuk memanfaatkan bonus demografi.
Momentum menuju Indonesia Emas 2045 membuat persiapan generasi muda menjadi semakin penting karena kelompok yang saat ini berada pada usia sekolah akan menjadi bagian dari tenaga produktif dan kepemimpinan nasional pada periode tersebut. Mereka akan menghadapi persaingan yang semakin terbuka dengan tenaga kerja dan perusahaan dari berbagai negara. Kemampuan bahasa, teknologi, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah akan menjadi semakin penting selain pendidikan formal. Namun, kemampuan tersebut harus dibarengi integritas agar kemajuan ekonomi tidak menimbulkan persoalan baru dalam tata kelola maupun kehidupan sosial. Generasi yang memiliki kemampuan tinggi tetapi tidak memiliki tanggung jawab dapat menghasilkan risiko yang sama besarnya dengan kekurangan keterampilan. Karena itu, pendidikan karakter tetap harus menjadi bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia. Keluarga memiliki peran membangun fondasi, sekolah memberikan pengetahuan dan pengalaman, sementara organisasi seperti Pramuka menyediakan ruang pengembangan sosial. Kombinasi tersebut diharapkan menghasilkan generasi yang mampu menghadapi persaingan sekaligus mempertahankan kepedulian terhadap masyarakat.
Kapolri turut mendorong anggota Pramuka memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dan tidak hanya berfokus pada pengembangan kemampuan pribadi. Keterlibatan Pramuka dalam penanggulangan bencana, pelayanan masyarakat, serta berbagai kegiatan sosial dinilai menjadi contoh bagaimana generasi muda dapat mulai berkontribusi sejak sekarang. Aktivitas tersebut melatih kemampuan bekerja dalam situasi nyata sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Sigit juga mendorong generasi muda menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan melalui kebiasaan menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan melakukan penghijauan. Persoalan lingkungan akan menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi generasi mendatang sehingga kesadaran perlu dibangun lebih awal. Kemampuan teknologi dan pendidikan yang tinggi harus berjalan bersama kesadaran menjaga keberlanjutan sumber daya. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga mempertahankan kualitas lingkungan bagi generasi berikutnya. Kontribusi sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk kebiasaan yang terbawa ketika seseorang memiliki tanggung jawab lebih besar.
Pesan Kapolri kepada generasi muda pada akhirnya menegaskan bahwa bonus demografi bukan keuntungan yang akan memberikan hasil secara otomatis. Besarnya penduduk usia produktif baru menjadi kekuatan apabila mereka memiliki pendidikan, keterampilan, kesehatan, karakter, dan kesempatan untuk bekerja serta berkarya. Generasi muda diminta menggunakan waktu yang tersedia untuk terus meningkatkan kemampuan dan menghindari aktivitas yang dapat merusak masa depan. Pemerintah, institusi pendidikan, keluarga, organisasi masyarakat, dan dunia usaha juga memiliki tanggung jawab menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan tersebut. Pramuka dinilai menjadi salah satu wadah yang dapat membantu membangun disiplin, kemandirian, kepemimpinan, gotong royong, dan rasa persatuan. Teknologi pada saat yang sama perlu dimanfaatkan sebagai alat belajar dan mengembangkan potensi, bukan menjadi sumber persoalan baru. Apabila kesempatan demografi dapat dikelola dengan baik, Indonesia memiliki peluang mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan daya saing menuju 2045. Persiapan yang dilakukan hari ini akan menentukan apakah bonus demografi benar-benar menjadi momentum lompatan menuju negara maju atau justru menjadi kesempatan besar yang terlewatkan.