Depok, 4 September 2026 – Seorang mahasiswa Universitas Indonesia berinisial NJ (21) ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di kawasan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat. Korban diketahui merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer di Fakultas Ilmu Komputer UI. Polisi menyatakan hasil pemeriksaan awal di tempat kejadian mengarah pada dugaan korban meninggal akibat bunuh diri dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang menunjukkan keterlibatan orang lain. Peristiwa tersebut pertama kali diketahui setelah keluarga tidak berhasil menghubungi korban selama sekitar dua hari. Kekhawatiran keluarga kemudian mendorong kakak korban meminta bantuan pemilik kos untuk memeriksa kondisi mahasiswa tersebut.
Korban ditemukan pada Senin, 31 Agustus 2026, sekitar pukul 18.30 WIB di tempat kos yang berada di Jalan H Kodja, Kelurahan Kukusan. Sebelum penemuan tersebut, pihak keluarga berulang kali berusaha menghubungi korban melalui telepon, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Setelah dua hari tanpa kabar, kakak korban menghubungi pemilik tempat kos dan meminta agar kamar adiknya diperiksa. Pemilik kos kemudian mendatangi kamar dan beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tidak memperoleh respons dari dalam. Kondisi tersebut membuat pemilik kos memutuskan membuka pintu kamar yang diketahui dalam keadaan tidak terkunci.
Ketika memasuki kamar, pemilik kos menemukan korban sudah tidak memberikan respons dalam posisi telungkup. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada lingkungan sekitar dan diteruskan kepada Polsek Beji untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Personel kepolisian mendatangi lokasi dan mengamankan area kamar agar pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh. Tim identifikasi Polres Metro Depok juga dilibatkan untuk memeriksa kondisi korban serta keadaan di sekitar tempat kejadian. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan apakah terdapat indikasi tindak pidana maupun keterlibatan pihak lain dalam kematian korban.
Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Hendra Kurniawan membenarkan bahwa korban merupakan mahasiswa Universitas Indonesia. Berdasarkan identitas yang diperoleh polisi, NJ tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer di Fakultas Ilmu Komputer UI. Kepastian mengenai status korban tersebut menjadi perkembangan lanjutan setelah sebelumnya informasi awal hanya menyebut seorang pria berusia 21 tahun ditemukan meninggal di kamar kos kawasan Beji. Identifikasi dilakukan berdasarkan data korban dan informasi yang diperoleh dari keluarga. Kepolisian selanjutnya melakukan pemeriksaan terhadap kondisi tempat kejadian untuk mengetahui rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan.
Hasil pemeriksaan awal tim identifikasi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban yang mengarah pada dugaan penganiayaan oleh orang lain. Polisi menyimpulkan sementara bahwa kondisi yang ditemukan di lokasi konsisten dengan dugaan korban mengakhiri hidupnya sendiri. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan sejumlah tanda yang ditemukan ketika petugas melakukan pemeriksaan di tempat kejadian. Meski demikian, kepolisian tetap melakukan prosedur pemeriksaan untuk memastikan tidak terdapat unsur pidana yang terlewatkan. Keterangan dari pemilik kos dan keluarga juga menjadi bagian dari proses penanganan peristiwa tersebut.
Pihak keluarga selanjutnya menyatakan tidak menghendaki dilakukan autopsi terhadap jenazah. Keputusan tersebut disampaikan melalui surat pernyataan kepada kepolisian setelah keluarga memperoleh penjelasan mengenai hasil pemeriksaan awal. Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan kemudian melakukan proses penanganan jenazah. Polisi menghormati keputusan keluarga dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan di lokasi yang tidak menemukan indikasi kekerasan dari pihak lain. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga untuk menjalani proses pemakaman sesuai keputusan mereka.
Informasi mengenai meninggalnya mahasiswa tersebut menjadi perhatian karena lokasi tempat kos berada tidak jauh dari lingkungan Universitas Indonesia. Kawasan Kukusan merupakan salah satu wilayah yang banyak dihuni mahasiswa karena berdekatan dengan kampus dan memiliki berbagai tempat tinggal sementara. Peristiwa tersebut juga menunjukkan pentingnya komunikasi antara penghuni kos, keluarga, dan lingkungan sekitar, terutama ketika seseorang tidak dapat dihubungi dalam waktu yang tidak biasa. Respons keluarga yang meminta pemilik kos melakukan pengecekan akhirnya membuat kondisi korban dapat diketahui. Dalam situasi serupa, pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan tetap melibatkan pihak yang bertanggung jawab terhadap tempat tinggal serta aparat apabila ditemukan keadaan darurat.
Kematian seorang mahasiswa juga kembali mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis generasi muda dan mahasiswa. Tekanan akademik, persoalan pribadi, hubungan sosial, kondisi ekonomi, maupun berbagai persoalan lain dapat memberikan beban yang berbeda bagi setiap individu, meskipun penyebab spesifik dalam kasus NJ tidak dapat disimpulkan tanpa informasi yang memadai. Karena itu, masyarakat perlu menghindari spekulasi mengenai alasan korban mengambil tindakan tersebut. Kondisi seseorang tidak selalu dapat diketahui hanya berdasarkan perilaku yang terlihat dari luar. Dukungan dari keluarga, teman, lingkungan kampus, dan tenaga profesional dapat menjadi bagian penting ketika seseorang menghadapi tekanan yang sulit ditangani sendiri.
Lingkungan pendidikan juga memiliki peran dalam menyediakan ruang yang aman bagi mahasiswa untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan psikologis maupun tekanan kehidupan. Akses terhadap konseling, pendampingan, dan layanan kesehatan mental dapat membantu mahasiswa memperoleh dukungan sebelum masalah berkembang semakin berat. Teman maupun orang terdekat juga dapat memberikan perhatian ketika melihat perubahan perilaku yang signifikan, seperti menarik diri secara tiba-tiba, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, atau menyampaikan keputusasaan. Respons terhadap kondisi tersebut sebaiknya dilakukan tanpa menghakimi dan dengan mendorong seseorang memperoleh bantuan yang tepat. Kesadaran mengenai kesehatan mental perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesejahteraan mahasiswa secara keseluruhan.
Polisi memastikan penanganan peristiwa di Kukusan telah dilakukan melalui pemeriksaan tempat kejadian dan identifikasi terhadap korban. Berdasarkan temuan sementara, tidak terdapat tanda kekerasan yang mengarah pada keterlibatan orang lain, sementara keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak pelaksanaan autopsi. Kepastian bahwa korban merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer UI sekaligus melengkapi identitas pria yang sebelumnya ditemukan setelah dua hari tidak dapat dihubungi. Peristiwa tersebut menjadi duka bagi keluarga dan lingkungan korban sekaligus mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap orang-orang terdekat yang mengalami perubahan kondisi atau kehilangan komunikasi secara tidak biasa. Masyarakat juga diharapkan menghormati privasi keluarga serta tidak menyebarkan spekulasi maupun materi sensitif mengenai kondisi korban.