Jakarta, 20 Agustus 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan sepanjang Agustus 2026. Dampaknya mulai terasa di berbagai daerah, mulai dari munculnya kabut asap pekat, memburuknya kualitas udara, terganggunya aktivitas sekolah hingga persoalan penerbangan. Sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur dilaporkan menghadapi kebakaran dengan tingkat dampak yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman dan pencegahan terus dilakukan oleh petugas gabungan di berbagai lokasi. Data terbaru juga menunjukkan peningkatan jumlah titik panas di kawasan Kalimantan dalam beberapa hari terakhir.
Di Kalimantan Tengah, beberapa wilayah yang terdampak antara lain Palangka Raya, Pulang Pisau, Pangkalan Bun, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat. Palangka Raya menjadi salah satu wilayah yang menghadapi kondisi cukup serius dengan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Pada Rabu, 19 Agustus 2026, indeks kualitas udara di kota tersebut dilaporkan mencapai kategori berbahaya, sementara jarak pandang juga mengalami penurunan. Di tingkat provinsi, ribuan titik panas terdeteksi dan sebagian di antaranya berada di wilayah Palangka Raya. Kondisi tersebut membuat pemerintah melakukan berbagai langkah, termasuk penyesuaian aktivitas pendidikan untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa.
Wilayah Kotawaringin Barat juga menghadapi dampak karhutla yang cukup luas. Kecamatan Kumai menjadi salah satu kawasan dengan luasan terdampak terbesar di kabupaten tersebut. Berdasarkan rekapitulasi pemerintah daerah, karhutla di Kecamatan Kumai telah berdampak terhadap sekitar 398,07 hektare lahan dari 59 kejadian. Selain Kumai, kawasan Pangkalan Bun dan wilayah lainnya di Kotawaringin Barat juga mengalami kepulan asap akibat kebakaran lahan. Kondisi angin dan cuaca kering membuat petugas harus terus memantau titik-titik yang masih memiliki potensi munculnya bara atau api baru.
Sementara itu, Kalimantan Selatan juga menjadi salah satu wilayah yang mengalami peningkatan dampak karhutla. Banjarbaru termasuk kawasan yang mendapat perhatian karena kualitas udara memburuk akibat kepulan asap. Sejumlah wilayah lain seperti Banjarmasin dan daerah sekitarnya juga terdampak asap yang berasal dari kebakaran di berbagai titik. Kondisi udara yang memburuk dapat mengganggu aktivitas masyarakat apabila berlangsung dalam waktu panjang. Pemerintah dan petugas perlu memperkuat pemantauan untuk memastikan titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Di Kalimantan Timur, kebakaran juga terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara. Salah satu lokasi yang ditangani petugas berada di Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 10,65 hektare lahan dan penanganannya berlangsung sejak Rabu hingga Kamis pagi. Material yang terbakar meliputi lahan mineral, semak belukar, serta pepohonan. Lokasi kebakaran juga berada relatif dekat dengan kawasan Ibu Kota Nusantara sehingga penanganannya mendapat perhatian khusus. Petugas gabungan masih melakukan pemantauan terhadap bara dan titik asap untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Selain wilayah-wilayah tersebut, sejumlah kawasan lain di Kalimantan juga menghadapi dampak asap dan kebakaran. Daerah seperti Pulang Pisau, Pangkalan Bun, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Penajam Paser Utara masuk dalam daftar wilayah yang mengalami dampak karhutla dalam beberapa waktu terakhir. Persebaran tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran tidak hanya terkonsentrasi pada satu kabupaten atau kota. Kondisi lahan yang kering, cuaca panas, dan keberadaan vegetasi mudah terbakar dapat memperbesar risiko penyebaran api. Karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting agar titik api dapat ditangani sebelum meluas.
Dampak karhutla juga mulai meluas ke sektor kehidupan masyarakat. Asap pekat dapat menurunkan jarak pandang, mengganggu aktivitas transportasi, serta memperburuk kualitas udara. Di sejumlah wilayah, kondisi tersebut bahkan berdampak terhadap kegiatan pendidikan dan penerbangan. Masyarakat yang berada di daerah terdampak perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan mengikuti arahan pemerintah daerah. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu juga perlu mendapatkan perhatian lebih ketika paparan asap meningkat.
Peningkatan aktivitas karhutla di Kalimantan menjadi tantangan serius pada periode kemarau tahun ini. Pemerintah daerah bersama petugas pemadam, aparat keamanan, dan masyarakat harus terus memperkuat patroli serta pemantauan titik panas. Setiap kebakaran perlu ditangani sedini mungkin karena api yang menjalar di lahan kering dapat berkembang dengan cepat dan sulit dikendalikan. Pencegahan juga tidak kalah penting, terutama dengan mengawasi aktivitas pembukaan lahan dan memastikan masyarakat tidak melakukan pembakaran secara sembarangan. Dengan penanganan cepat dan koordinasi lintas wilayah, penyebaran karhutla di Kalimantan diharapkan dapat ditekan sebelum dampaknya semakin luas.