Pekanbaru, 21 September 2026 – Anggota Komisi V DPR RI Syahrul Aidi Maazat bersama Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief mendorong mahasiswa mulai membangun kemandirian ekonomi sejak masih berada di bangku kuliah. Pesan tersebut disampaikan dalam Summit Event Legislative DPM Universitas Riau (UNRI) yang berlangsung di Pekanbaru, Sabtu, 19 September 2026. Kegiatan itu mengangkat tema mengenai peran legislator dalam memperkuat UMKM, mendorong konektivitas pembangunan daerah tertinggal, dan mewujudkan kemandirian ekonomi nasional. Kedua legislator menempatkan mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki peluang untuk menciptakan kegiatan produktif sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat. Kemandirian ekonomi dipandang tidak harus menunggu seseorang menyelesaikan pendidikan atau memiliki modal dalam jumlah besar.
Syahrul menilai mahasiswa perlu berani memulai langkah untuk mandiri karena kemampuan tersebut menjadi fondasi sebelum berbicara mengenai kemandirian ekonomi dalam skala lebih luas. Menurut dia, sistem pendidikan selama ini masih cenderung mempersiapkan peserta didik untuk bekerja kepada pihak lain dibandingkan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah sementara pertumbuhan kesempatan kerja tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama. Ia menilai pendidikan semestinya tidak hanya membekali mahasiswa untuk menyelesaikan ujian akademik, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi berbagai persoalan nyata setelah menyelesaikan pendidikan. Kemampuan membaca peluang, mengambil keputusan, dan membangun kegiatan produktif menjadi bagian yang dinilai perlu dikembangkan sejak masa kuliah.
Dorongan untuk berwirausaha menjadi salah satu pesan yang disampaikan kepada mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Syahrul mengatakan dirinya banyak menemukan orang-orang yang berhasil membangun usaha setelah memulainya sejak masih berstatus mahasiswa. Karena itu, mahasiswa didorong tidak takut mencoba meskipun usaha yang dirintis masih dalam skala kecil. Lingkungan kampus dinilai dapat menjadi tempat untuk mengembangkan gagasan, memperluas jaringan, sekaligus menguji kemampuan dalam mengelola kegiatan ekonomi. Pengalaman yang diperoleh sejak kuliah juga dapat menjadi bekal ketika mahasiswa memasuki dunia kerja maupun memutuskan membangun usaha setelah lulus.
Selain membangun usaha sendiri, mahasiswa juga didorong mengambil peran sebagai penghubung antara masyarakat yang memiliki sumber daya dengan kelompok yang membutuhkan akses terhadap sumber daya tersebut. Peran tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan, jaringan pertemanan, kemampuan komunikasi, dan pemahaman terhadap perkembangan teknologi. Pendekatan semacam ini memungkinkan mahasiswa memberikan kontribusi tanpa harus menunggu memiliki modal finansial yang besar. Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan mempertemukannya dengan peluang yang tersedia dapat menjadi bagian dari proses membangun kemandirian. Syahrul melihat ruang tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk memperoleh pengalaman sekaligus menghasilkan dampak ekonomi di lingkungan sekitarnya.
Hendry Munief pada kesempatan yang sama menekankan pentingnya kelembagaan bagi kelompok usaha, termasuk mahasiswa dan masyarakat yang baru merintis kegiatan ekonomi. Keberadaan kelembagaan dinilai dapat mempermudah pelaku usaha memperoleh pembinaan, pendampingan, serta akses terhadap berbagai program pemerintah. Bagi usaha yang masih berada pada tahap awal, dukungan tersebut dapat membantu mereka membangun tata kelola dan memperluas jaringan. Hendry juga mengingatkan bahwa kontribusi terhadap pembangunan tidak harus menunggu seseorang memiliki bisnis besar, modal besar, ataupun jabatan tertentu. Langkah dapat dimulai dengan memanfaatkan kemampuan dan sumber daya yang sudah dimiliki.
Mahasiswa dinilai memiliki sejumlah modal awal yang kerap belum dimanfaatkan secara maksimal, mulai dari pengetahuan, jaringan pertemanan, kemampuan berkomunikasi hingga keberanian mencoba hal baru. Hendry mendorong mahasiswa yang ingin menjalankan bisnis agar tidak terlalu lama menunggu kondisi yang dianggap ideal. Masa kuliah dapat digunakan untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus memahami persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung. Pengalaman tersebut kemudian dapat diterjemahkan menjadi gagasan usaha maupun kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi. Dengan proses yang dimulai lebih awal, mahasiswa mempunyai kesempatan lebih panjang untuk belajar dari kegagalan, memperbaiki model usaha, dan membangun jaringan sebelum memasuki kehidupan profesional.
Pesan kedua anggota DPR tersebut menempatkan kemandirian mahasiswa dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar memperoleh penghasilan selama kuliah. Kemandirian juga berkaitan dengan kemampuan menciptakan peluang, membangun kapasitas, mengembangkan kelembagaan, serta mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan ekonomi masyarakat. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena menjadi ruang bertemunya pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan jaringan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Mahasiswa diharapkan dapat menggunakan periode pendidikan sebagai kesempatan untuk memperkuat kompetensi sekaligus mempersiapkan pilihan ekonomi setelah menyelesaikan studi. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki kesiapan untuk memasuki lapangan pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membangun peluang ekonomi secara mandiri.