Jakarta, 20 September 2026 – Pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di perairan Selat Sunda menyisakan cerita panjang mengenai perjuangan tim SAR, keluarga, serta komunitas pers. Delapan orang tersebut berada di dalam speedboat Arupadatu I yang berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan pada 7 September 2026. Komunikasi dengan rombongan kemudian terputus ketika kapal berada di perairan Selat Sunda. Laporan mengenai hilangnya rombongan ditindaklanjuti dengan operasi pencarian yang melibatkan berbagai unsur melalui laut dan udara. Selama sepuluh hari, area pencarian terus diperluas berdasarkan titik terakhir komunikasi serta perhitungan pergerakan arus. Namun hingga operasi resmi berakhir, keberadaan kapal dan delapan orang di dalamnya belum ditemukan.
Lima jurnalis yang berada dalam perjalanan tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas, Arie Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Donal Husni. Mereka didampingi Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu. Rombongan bertolak sekitar pukul 14.00 WIB dan salah satu jurnalis masih sempat mengirimkan informasi mengenai lokasi mereka sekitar pukul 14.42 WIB. Komunikasi kemudian mulai terputus sekitar pukul 15.04 WIB, meski pada sore hari masih terdapat informasi yang menunjukkan rombongan telah mencapai kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau. Ketika mereka tidak kunjung kembali dan komunikasi tidak dapat dipulihkan, laporan disampaikan kepada petugas pencarian dan pertolongan. Dari titik itulah operasi besar pencarian di Selat Sunda dimulai.
Pencarian menghadapi kondisi perairan yang tidak mudah karena arus kuat, perubahan gelombang, angin serta aktivitas vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau. Tim gabungan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah sektor dan mengerahkan kapal serta unsur udara untuk memperbesar peluang menemukan rombongan. Pada hari kesembilan, sebanyak 22 kapal dan sekitar 570 personel terlibat dengan area pencarian mencapai sekitar 3.439 mil laut persegi. Penyisiran bahkan diperluas hingga Pulau Enggano dan pesisir Bengkulu dengan mempertimbangkan kemungkinan objek terbawa arus. Pemodelan berdasarkan arah angin, gelombang dan arus laut digunakan untuk menentukan sektor yang dinilai memiliki kemungkinan lebih besar. Kendati pencarian dilakukan secara intensif, tidak ada tanda pasti mengenai posisi Arupadatu I.
Sejumlah benda ditemukan selama operasi, mulai dari pelampung, helm, jeriken hingga terpal yang sempat memunculkan harapan baru. Setiap temuan diperiksa untuk memastikan kemungkinan keterkaitannya dengan kapal yang hilang. Sedikitnya 13 objek atau material ditemukan selama rangkaian pencarian, tetapi pemeriksaan akhirnya tidak dapat menghubungkan benda-benda tersebut dengan Arupadatu I. Kondisi tersebut membuat pencarian semakin kompleks karena luasnya wilayah Selat Sunda dan kuatnya pergerakan arus. Tim harus terus memperbarui perkiraan posisi berdasarkan waktu yang telah berlalu sejak komunikasi terakhir. Hingga hari terakhir operasi, tidak ditemukan serpihan kapal maupun petunjuk lain yang dapat memastikan keberadaan delapan orang tersebut.
Setelah pencarian berlangsung selama sepuluh hari, operasi SAR resmi dihentikan pada 17 September 2026 karena upaya yang dilakukan dinilai tidak lagi efektif. Penghentian operasi aktif bukan berarti seluruh pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan rombongan berakhir. Koordinasi dengan petugas lalu lintas kapal, unsur TNI AL, kepolisian perairan serta kapal yang melintas di Selat Sunda tetap dilakukan. Operasi pencarian juga dapat dibuka kembali apabila muncul informasi atau petunjuk baru yang dapat diverifikasi. Di sisi lain, keluarga dan komunitas pers masih menjalankan berbagai upaya secara mandiri, termasuk membangun komunikasi dengan nelayan di sekitar pulau-pulau di kawasan Selat Sunda. Harapan untuk mendapatkan kepastian mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal pun tetap dipertahankan.
Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat mengenai tingginya risiko yang dapat dihadapi jurnalis ketika menjalankan tugas peliputan di kawasan bencana dan medan berbahaya. Para jurnalis yang hilang sedang menjalankan tugas untuk merekam aktivitas Gunung Anak Krakatau ketika perjalanan mereka berakhir tanpa kabar. Setelah operasi resmi dihentikan, keluarga dan rekan-rekan mereka menggelar doa, tabur bunga serta berbagai kegiatan solidaritas. Perhatian juga diarahkan pada pentingnya prosedur keselamatan, koordinasi dengan petugas dan kesiapan perlengkapan ketika peliputan dilakukan di wilayah berisiko tinggi. Meski pencarian besar telah berakhir, pemantauan dan pencarian mandiri masih memberikan ruang bagi munculnya petunjuk baru. Kisah pencarian panjang di Selat Sunda itu akhirnya menjadi catatan tentang risiko pekerjaan jurnalistik sekaligus besarnya solidaritas yang muncul ketika para pencari berita menghadapi musibah.